Pemerintah terus memperkuat diplomasi dan kerja sama ekonomi internasional sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan ekonomi nasional, memperluas akses pasar, serta mendorong transformasi ekonomi menuju Indonesia Emas 2045. Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, penguatan kapasitas dan wawasan generasi muda menjadi penting agar mampu memahami perkembangan ekonomi global, beradaptasi terhadap perubahan teknologi, serta memanfaatkan peluang kerja sama internasional untuk mendukung daya saing Indonesia di masa depan.
Sehubungan dengan hal tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menerima Kunjungan Studi Universitas Pasundan di Jakarta, Senin (18/05). Kegiatan tersebut menjadi sarana edukasi dan komunikasi publik Pemerintah kepada civitas akademika mengenai peran strategis kerja sama ekonomi internasional dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
“Indonesia saat ini aktif memperkuat posisi di berbagai forum ekonomi global seperti ASEAN, APEC, G20, BRICS, OECD, dan CPTPP. Pemerintah juga terus mempercepat penyelesaian berbagai perjanjian perdagangan strategis seperti Indonesia–EU CEPA, Indonesia–Canada CEPA, Indonesia–EAEU FTA, hingga penguatan kerja sama ekonomi dengan Inggris, Jepang, Australia, dan kawasan Eurasia,” ujar Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Bilateral Kemenko Perekonomian Irwan Sinaga sebagai narasumber utama dalam kegiatan tersebut.
Selain memperluas akses pasar ekspor, berbagai kerja sama tersebut diarahkan untuk mendukung transformasi ekonomi nasional melalui penguatan investasi, hilirisasi industri, ekonomi digital, transisi energi, serta pengembangan sektor strategis seperti semikonduktor, AI, kendaraan listrik, dan energi hijau. Pemerintah juga terus mendorong agenda dekarbonisasi melalui kerja sama AZEC dan Just Energy Transition Partnership (JETP).
Selain itu, disampaikan pula mengenai aksesi Indonesia ke OECD yang menjadi langkah strategis untuk mempercepat reformasi struktural, meningkatkan kualitas tata kelola, memperkuat daya saing, serta mendukung Indonesia keluar dari middle income trap. Indonesia ditargetkan menyelesaikan proses aksesi OECD dalam waktu tiga hingga empat tahun setelah penyampaian Initial Memorandum pada tahun 2025.
Pemerintah juga menegaskan pentingnya penguatan peran generasi muda dalam menghadapi perubahan global yang berlangsung cepat. Mahasiswa didorong untuk terus membangun karakter yang adaptif, inovatif, dan melek teknologi agar mampu memanfaatkan berbagai peluang kerja sama ekonomi dan transformasi digital di masa depan.
“Manfaatkan kesempatan kunjungan studi hari ini untuk belajar mengenal tentang kerja sama ekonomi dan investasi yang sesuai dengan minat adik-adik mahasiswa. Bapak Menko Perekonomian berpesan agar adik-adik generasi muda Indonesia terus membangun karakter yang adaptif, inovatif, dan techâsavvy,” pungkas Pranata Humas Ahli Madya Kemenko Perekonomian Thelma Amelita.
Melalui kegiatan kunjungan studi ini, para mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai peran kerja sama ekonomi internasional dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperluas wawasan terkait tantangan dan peluang ekonomi global yang dihadapi Indonesia saat ini. Antusiasme mahasiswa juga terlihat selama kegiatan berlangsung melalui perhatian dalam menyimak pemaparan materi, mengajukan berbagai pertanyaan, serta berdiskusi langsung mengenai isu-isu kerja sama ekonomi internasional dan perkembangan ekonomi global. (aml/iqb/tam)
***