Sumber BPMI Setpres

Indonesia Bangkit Menuju Pemulihan Ekonomi

05 Nov 2020 19:00

KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN
REPUBLIK INDONESIA

SIARAN PERS
No. HM.4.6/164/SET.M.EKON.2.3/11/2020

Indonesia Bangkit Menuju Pemulihan Ekonomi

Jakarta, 05 November 2020

Indonesia telah berhasil melewati titik terendah (rock bottom) dalam perekonomiannya. Hal ini tergambar dari angka pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III-2020 yang meski masih terkontraksi -3,49% secara year on year (yoy), tetapi membaik dibandingkan kondisi triwulan II-2020 yang terkontraksi mencapai -5,32%. Secara quarter to quarter (qtq) atau dibandingkan kondisi triwulan sebelumnya, ekonomi Indonesia juga tumbuh tinggi di angka 5,05%. Kondisi tersebut sejalan dengan perbaikan ekonomi global yang mulai terlihat di triwulan III-2020.

Perbaikan kondisi ekonomi pada triwulan III ini tidak terlepas dari berbagai kebijakan pemerintah yang dilakukan secara intensif dalam upaya Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN). Intervensi pemerintah dalam penanganan kesehatan telah mendorong kepercayaan yang kemudian meningkatkan aktivitas masyarakat.

“Begitu pun intervensi pemerintah melalui program-program pemulihan ekonomi yang ditujukan untuk menahan laju penurunan kinerja ekonomi, yang berhasil menggerakkan konsumsi masyarakat dan investasi swasta,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam Keterangan Pers terkait Pertumbuhan Ekonomi, di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (5/11).

Perbaikan ekonomi Indonesia dari sisi permintaan (demand) didukung oleh pertumbuhan konsumsi pemerintah sebesar 9,76% (yoy). Hal ini menggambarkan upaya pemerintah dalam menstimulasi perekonomian melalui program-program PEN.

Perbaikan juga terlihat pada sisi penawaran (supply). Terdapat sektor yang melejit tinggi setelah di triwulan sebelumnya tumbuh minus, yaitu: sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 24,28% dari -29,18% di triwulan sebelumnya, sektor akomodasi dan makanan minuman tumbuh 14,79% dibandingkan triwulan sebelumnya di posisi -22,21%, industri pengolahan tumbuh 5,25% dari posisi -6,29%, dan sektor perdagangan yang tumbuh 5,68% dari posisi -6,71% di triwulan sebelumnya.

“Sejalan dengan pelonggaran kebijakan pembatasan sosial, perbaikan cukup signifikan juga dialami oleh sektor transportasi dan pergudangan, serta sektor penyediaan akomodasi dan makanan-minuman (mamin) yang sebelumnya mengalami kontraksi terdalam, tetapi pada triwulan ini mengalami pertumbuhan antar kuartal yang tertinggi,” jelas Menko Airlangga.

Kemudian, indikasi perbaikan juga terlihat pada sejumlah indikator ekonomi seperti Purchasing Managers Index (PMI), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), indeks penjualan ritel, dan surplus neraca perdagangan.

Indikasi pemulihan ekonomi ini juga terlihat dari pertumbuhan ekonomi triwulan ketiga menurut pengeluaran, yang juga menunjukkan perbaikan jika dibandingkan dengan triwulan kedua. Konsumsi Rumah Tangga tercatat tumbuh 4,70% dari posisi -6,53% pada triwulan kedua, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 8,45% dari -9,71% di triwulan sebelumnya, dan Belanja Pemerintah tercatat naik 16,93%.

Secara spasial, lanjutnya, kinerja pertumbuhan ekonomi daerah masih sangat dipengaruhi oleh faktor kesehatan yang menyebabkan pembatasan fisik dan sosial, serta aktivitas pariwisata. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi daerah pada triwulan ketiga, dibandingkan dengan triwulan kedua menunjukkan angka positif untuk seluruh provinsi. 

Seperti DKI Jakarta yang tumbuh 8,38% dan berkontribusi pada PDB nasional sebesar 17,66%. Provinsi Jawa Timur tumbuh 5,89% dengan kontribusi sebesar 14,73%, Sulawesi Selatan tumbuh 8,18% dan berkontribusi 3,33%, serta Sumatera Utara yang mengalami pertumbuhan sebesar 3,13% dengan kontribusi 5,13%.

 

Menjaga Momentum Pemulihan Ekonomi

Pemerintah menerapkan sejumlah strategi untuk menjaga momentum pertumbuhan dan pemulihan ekonomi, di antaranya dengan meningkatkan efektivitas belanja pemerintah melalui Program PEN, dan meningkatkan arus permodalan (capital inflow) yang berpotensi meningkatkan investasi.

“Kami juga mendorong ekspor utama Indonesia dengan memanfaatkan perbaikan harga komoditas, seperti kelapa sawit dan batu bara, di pasar internasional. Untuk kelapa sawit sendiri yang mendorong sektor pertanian meningkat,” ujar Menko Airlangga.

Pandemi juga berdampak pada kondisi ketenagakerjaan di tanah air, dengan meningkatnya angka pengangguran sebanyak 2,67 juta orang menjadi 9,77 juta orang. Pekerja Paruh Waktu bertambah 4,23 juta orang dan Pekerja yang Setengah Penganggur bertambah 4,83 juta orang, sementara Pekerja Penuh menurun sebanyak 9,46 juta orang.

Sehingga, untuk mengatasi disrupsi kondisi ketenagakerjaan akibat pandemi, pemerintah telah menerapkan program Kartu Prakerja dan melakukan reformasi regulasi melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, untuk meningkatkan investasi dan juga menciptakan lapangan pekerjaan.  Agar strategi pemulihan ekonomi berjalan dengan baik, pemerintah juga telah menyiapkan Program Pengadaan Vaksin dan Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa menambahkan, proses adaptasi Indonesia cukup baik, termasuk jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.

“Dengan adanya kenaikan per kuartal sekitar 5% menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah juga responsif dan adaptif kepada perkembangan. Kemudian, jika dalam kuartal keempat, konsumsi pemerintah akan tumbuh sama besarnya dengan kuartal ketiga, maka kita akan bisa menutup tahun ini dengan pertumbuhan ekonomi mendekati nol atau beberapa poin di atas nol,” ungkapnya. (ekon/dep1/rep/iqb)

***

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
Susiwijono Moegiarso

 
Website: www.ekon.go.id
Twitter & Instagram: @PerekonomianRI
Email: humas@ekon.go.id


Bagikan di | Cetak | Unduh