Sumber ekon.go.id

Pemerintah Gencarkan Konsumsi Buah Nusantara, Dorong Masyarakat Lebih Sehat di Masa Pandemi

10 Aug 2020 20:50

Situasi perlambatan ekonomi yang diakibatkan pandemi Covid-19 terus berlanjut sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan kedua 2020 terkontraksi menjadi -5,32%. Dari sisi sektoral, pada saat sebagian besar sektor mengalami kontraksi negatif, sektor pertanian masih mampu tumbuh positif sebesar 2,19%. Dari ketujuh sektor yang tumbuh baik di semester kedua tahun ini, sektor pertanian memberikan andil terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yaitu sebesar 15,46%.

Pertumbuhan PDB sektor pertanian, antara kuartal pertama dan kedua 2020, berada pada angka 16,24%. Kenaikan itu didukung tumbuhnya subsektor pangan (34,77%), hortikultura (21,75%) dan perkebunan (23,46%).

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Musdhalifah Machmud mengatakan bahwa selama 4 tahun terakhir, buah-buahan terus memberi kontribusi ekspor terbesar pada sektor hortikultura, bahkan diproyeksikan ekspor buah-buahan segar akan terus mengalami peningkatan di tahun ini. Pasalnya, permintaan terhadap buah-buahan dari pasar global meningkat tajam di masa pandemi ini.

“Produksi buah-buahan nasional pada 2019 tercatat berjumlah 22.517.638 ton atau naik 4,8% dari tahun 2018,” katanya ketika memberi sambutan dalam acara Webinar ‘Gerakan Konsumsi Buah Nusantara’, di Jakarta, Senin (10/8).

Dia merincikan jumlahnya sebagai berikut: pisang (7.280.659 ton), mangga (2.808.936 ton), jeruk siam (2.563.486 ton), nanas (2.196.456 ton), durian (1.169.802 ton), salak (955.763 ton), manggis (246.476 ton), serta buah lainnya (5.296.062 ton).

Selama pandemi Covid-19 (Januari-Mei 2020), permintaan ekspor buah segar meningkat cukup besar hingga mencapai 375,04 ribu ton atau meningkat 31,89% dibandingkan periode sama di 2019, kemudian nilai tambah ekspor tercatat sebesar sebesar US$191,23 juta atau meningkat 73,40% daripada periode sama tahun lalu. Pada 2019, volume ekspor buah Indonesia yang terbesar yaitu ke negara-negara tujuan berikut ini: Vietnam (27%), Malaysia (19%), Tiongkok (17%), India (10%), Hongkong (6%), Thailand (5%), dan Uni Emirat Arab (3%).

“Ini merupakan peluang sekaligus tantangan untuk meningkatkan produksi dan ekspor komoditas buah-buahan nasional. Tidak dipungkiri bahwa Indonesia adalah produsen buah tropika terbesar di dunia, jadi diperlukan gerakan besar untuk membangunkan ‘raksasa tidur’. Salah satunya melalui Gelar Buah Nusantara (GBN) yang dilaksanakan setiap tahun, dan untuk penyelenggaraan kelima tahun ini dilaksanakan di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian Jakarta,” papar Musdhalifah.

Pemerintah memang gencar mengampanyekan upaya peningkatan konsumsi buah nusantara, karena merujuk kepada anjuran World Health Organization (WHO) mengenai jumlah pengonsumsian buah-buahan setiap harinya adalah sekitar 150 gram, setara dengan 3 buah pisang ambon ukuran sedang, 1 potong pepaya ukuran sedang, ataupun 3 buah jeruk ukuran sedang.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) September 2019, rata-rata konsumsi per kapita per hari untuk buah-buahan hanya sebesar 41,95 Kkal atau sekitar 67 gram/kapita/hari. Angka ini jauh di bawah angka kecukupan gizi WHO sebesar 150 gram/kapita/hari.

“Jadi, perlu dilakukan gerakan bersama secara masif untuk menyosialisasikan gerakan konsumsi buah nusantara agar masyarakat mempunyai kesadaran untuk mencintai produk buah lokal, juga lebih banyak lagi mengonsumsi buah lokal untuk menyeimbangkan gizi dan meningkatkan kesehatan,” tutur Musdhalifah.

Untuk mendukung upaya peningkatan produksi dan ekspor buah Indonesia, lanjut Musdhalifah, pemerintah secara terintegrasi dan terkoordinir melaksanakan beberapa kebijakan pengembangan agribisnis hortikultura. Kebijakan itu di antaranya adalah:

  • Kemenko Perekonomian melalui pengembangan Kawasan Hortikultura Berorientasi Ekspor, Kemitraan Hulu Hilir Berbasis Teknologi, dan Rantai Pasok Pangan Berbasis Kereta Api.
  • Kementerian Pertanian melalui Gerakan Mendorong (Gedor) Kawasan Buah, Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks), subsidi ongkos angkut logistik pangan, dan Pengembangan Pasar Mitra Tani dan Toko Tani di setiap provinsi.
  • Kementerian Perdagangan melalui Program Pelatihan Ekspor (Export Coaching Program) dan Program Pendampingan Ekspor, Penguatan Promosi, Informasi Pasar (Market Intelligence), dan memperkuat peran perwakilan perdagangan di luar negeri.
  • PT Kereta Api Indonesia (KAI) melalui sinergi dengan BUMD dan stakeholders lainnya dalam mengangkut logistik pangan dengan efisien dan harga terjangkau.
  • PT Pos Indonesia melalui sinergi dengan pemerintah dalam mendistribusikan bahan pangan dari sentra produksi petani.

Selain itu, dari webinar tersebut dihasilkan rekomendasi antara lain perlunya keseimbangan antara produksi buah-buahan dengan permintaan di pasar, sehingga tidak ada produk yang terbuang sia-sia. Kemudian, perlu juga kerja sama yang erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, universitas, asosiasi petani, asosiasi pedagang buah, dan stakeholders lainnya untuk memastikan distribusi hasil panen buah-buahan bisa lancar sampai ke tangan konsumen, serta untuk pengembangan produksi buah-buahan yang namanya masih belum terkenal di Indonesia, padahal potensinya besar. Apalagi dengan permintaan buah-buahan yang meningkat untuk menaikkan imunitas di masa pandemi ini.

Turut hadir dalam webinar tersebut Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria, Komite Tetap Pengembangan Hortikultura Kadin Indonesia Karen Tambayong, Direktur Utama Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) Indonesia Hartono Wignjopranoto, Wakil Ketua Umum bidang Restoran Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Emil Arifin, dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB Muhammad Firdaus. (rep/iqb)

***


Bagikan di | Cetak | Unduh