Pemerintah berkomitmen untuk mewujudkan target bauran Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025. Pemanfaatan teknologi di bidang EBT, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), merupakan bagian dari percepatan pencapaian target tersebut. Selain itu, pemanfaatan teknologi EBT juga menjadi upaya mengurangi emisi karbon dan mendukung pengembangan wilayah.
“Salah satu komitmen Pemerintah adalah mendorong EBT menuju transisi energi,” ujar Asisten Deputi Ketahanan Kebencanaan dan Pemanfaatan Teknologi Kemenko Perekonomian Muksin yang hadir mewakili Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang Wahyu Utomo, saat melakukan kunjungan kerja di awal bulan ke PLTB Tolo 1 di Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan.
Berdasarkan data PLN, bauran energi listrik primer EBT di wilayah Sulawesi sampai April 2022 adalah 35,86%, yang mana cukup tinggi di atas capaian bauran EBT nasional. Kalau untuk total kapasitas PLTB Tolo 1 Jeneponto yakni mencapai 72 MegaWatt (MW), terdiri dari 20 turbin dengan kapasitas masing-masing 3,6 MW. Pembangkit tersebut merupakan aset kepemilikan PT Energi Bayu Jeneponto (Vena Energy) selaku Independet Power Producer (IPP). Tinggi menara pembangkit listrik tersebut mencapai 135 meter, sedangkan dimensi dari setiap baling-baling mencapai panjang 63 meter.
Nilai investasi PLTB Tolo 1 Jeneponto mencapai US$160,7 juta di mana Commercial Operation Date (COD) telah dimulai pada 14 Mei 2019 menggunakan skema BOOT (Build, Own, Operate, Transfer) selama 30 tahun.
PLTB sendiri merupakan jenis pembangkit listrik dengan sumber energi yang bersifat intermittent atau berupa Variable Renewable Energy (VRE). Karena itu, dalam pengoperasiannya dibutuhkan pembangkit cadangan sebagai pembangkit pendukung untuk mengantisipasi terjadinya penurunan kecepatan angin di bawah batasan desain turbin.
“Pengoperasian PLTB memiliki sejumlah tantangan yakni tingginya fluktuasi daya output energi listrik, tingginya fluktuasi frekuensi sistem akibat perubahan daya output, serta akurasi forecast PLTB yang masih rendah sehingga mempengaruhi perencanaan operasi,” jelas Senior Manager Bidang Operasi Sistem PLN Unit Induk Pembangkitan dan Penyaluran (UIKL) Sulawesi Anton Sugiarto.
Asset Manager PT Energi Bayu Jeneponto Wahyudin juga menerangkan bahwa pembangkit tersebut mampu mengaliri listrik setara 160 ribu rumah per tahun, dengan pengurangan emisi CO2 sejumlah 220 kton/tahun apabila disetarakan emisi yang dihasilkan pembangkit thermal dengan kapasitas sama.
Sebagai informasi, kunjungan Tim Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang Kemenko Perekonomian ke Kabupaten Jeneponto tersebut didampingi oleh Sekretaris Bappeda Kabupaten Jeneponto dan Kepala Cabang Dinas ESDM Wilayah II Sulawesi Selatan. (dep6/rep/fsr)
***