Sumber ekon.go.id

Didukung Proyeksi Demographic Dividend pada 2045, Pemerintah Tingkatkan Peluang Kerja Sama Dengan Pihak Swasta

26 May 2022 06:46

KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN
REPUBLIK INDONESIA

SIARAN PERS
HM.4.6/257/SET.M.EKON.3/5/2022

Didukung Proyeksi Demographic Dividend pada 2045, Pemerintah Tingkatkan Peluang Kerja Sama Dengan Pihak Swasta

Davos, 25 Mei 2022

Pertumbuhan perekonomian Indonesia yang kian menunjukkan sinyal positif turut berpotensi mendorong pulihnya tingkat kepercayaan konsumen dalam melakukan kegiatan belanja barang dan jasa. Dalam masa pandemi, konsumsi masyarakat kelas menengah mengalami tekanan, sehingga pulihnya daya beli konsumen tersebut akan mendongkrak pemulihan sektor lain.

Hingga saat ini, tercatat konsumsi masyarakat kelas menengah telah meningkat cukup signifikan. Hal tersebut dibuktikan dengan meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia, yang pada 2002 hanya berjumlah 7% dari total populasi atau setara dengan 14,1 juta orang, menjadi 57,3 juta orang pada 2019. Angka tersebut juga diprediksi masih akan terus meningkat mengingat demographic dividend atau bonus demografi yang akan dilalui Indonesia pada 2045 mendatang.

Potensi konsumsi masyarakat yang besar menjadi peluang yang baik bagi perusahaan swasta dalam membangun dan memasarkan produknya di Indonesia. Salah satunya adalah Coca Cola yang telah memiliki jumlah konsumen cukup besar di Indonesia.

“Indonesia merupakan pasar dan hub potensial bagi Coca Cola di regional Asia Tenggara, mengingat Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, dan negara dengan populasi terbanyak di kawasan Asia Tenggara,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam pertemuan dengan CEO dan Chairman the Coca Cola Company James Quincey, di Davos-Swiss, Selasa (24/05).

Potensi pasar yang besar tersebut perlu didukung sektor lainnya. Menko Airlangga menyampaikan, saat ini Indonesia telah melakukan reformasi struktural melalui UU Cipta Kerja. Tujuannya mengurangi jumlah perizinan dan memudahkan calon investor untuk membangun usahanya di Indonesia, salah satunya melalui mekanisme perizinan berusaha berbasis risiko.

Dukungan lain yang diberikan Pemerintah yaitu dengan menetapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang meliputi pergudangan, distribusi, teknologi informasi, dan sumber daya manusia, serta menawarkan insentif tax allowance untuk mendorong investasi. Hal itu menjadikan Indonesia bukan hanya menarik dari segi pemasaran, karena demografi yang muda dan produktif, tetapi juga karena infrastruktur pendukung yang semakin siap dalam mempermudah operasional perusahaan di Indonesia.

Selain itu, saat ini Indonesia juga tengah melakukan transisi energi guna mendukung terciptanya industri hijau dan terpenuhinya target net zero emission pada 2060. Salah satu implementasi dalam transisi energi dengan semakin memperluas penggunaan panel surya untuk pembangkit listrik dan sumber energi baru terbarukan lainnya.

Menko Airlangga turut menyampaikan pandangannya agar Coca Cola dapat melakukan diversifikasi usaha terkait dengan pengembangan produk berbahan baku buah kelapa, mengingat Indonesia juga memiliki potensi yang besar dalam menghasilkan buah kelapa serta luas lahan untuk perkebunan juga tersedia dalam jumlah yang besar. Di sisi lain, diversifikasi tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan pekebun kelapa yang mayoritas adalah pekebun kecil atau smallholder farmer, dan memberikan multiplier effect yang besar. (dep7/dft/fsr)

***

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi, dan Persidangan
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
Haryo Limanseto


Website: www.ekon.go.id
Twitter, Instagram, Facebook, TikTok, & YouTube: @PerekonomianRI
Email: humas@ekon.go.id
LinkedIn: Coordinating Ministry for Economic Affairs of the Republic of Indonesia


Bagikan di | Cetak | Unduh