Sumber ekon.go.id

Monitoring Pemanfaatan Teknologi Energi Baru dan Terbarukan pada PLTA Jatigede

15 Apr 2022 17:41

Dalam rangka memperkuat pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pengembangan wilayah, pemerintah terus berfokus untuk membangun berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN), salah satu yang sedang berjalan saat ini yakni pembangunan PSN Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jatigede.

Guna memastikan capaian pelaksanaan PSN PLTA Jatigede tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melalui Deputi Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang melaksanakan kegiatan Monitoring Pemanfaatan Teknologi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) PLTA Jatigede, Rabu (9/03), sesuai dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.

PLTA Jatigede merupakan PSN Ketenagalistrikan dengan kapasitas pembangkit sebesar 2x55 megawatt (MW) dan dilengkapi turbin Francis X2 berdiameter 4 Meter dengan ketinggian range gravitasi pressure 187 meter. Guna mengoperasikannya, PLTA Jatigede memanfaatkan air dari Bendungan Jatigede yang dimiliki oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Dengan penggunaan air Bendungan Jatigede tersebut, PLN juga membangun Bendungan Karedok sebagai pengganti sumber irigasi yang telah digunakan oleh PLTA Jatigede. Selain itu, bendungan ini juga berfungsi sebagai pengendali volume air keluaran PLTA Jatigede sekaligus sebagai pengendali banjir.

Pembangunan PLTA Jatigede ini diperkirakan akan selesai pada 31 Desember 2022 dengan progress per tanggal 26 Februari 2022 sebesar 92,29% dan selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar wilayah Majalengka, Indramayu, Subang, dan Kabupaten Bandung.

Hingga kini PLN belum memiliki rencana untuk mengembangkan teknologi EBT lain seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Bendungan Jatigede. Hal ini karena Bendungan Jatigede memiliki luas penampang waduk yang kecil serta terdapat batasan tutupan waduk sebesar 5% yang menghasilkan kapasitas listrik yang tidak terlalu besar sehingga dirasa belum mampu untuk dibangun PLTS. Selain itu, tantangan lainnya terkait tingginya harga baterai tempat mengimpan cadangan energi listrik yang mengakibatkan investasi pada teknologi EBT PLTS juga akan tinggi.

Kegiatan monitoring ini juga turut dihadiri oleh General Manager PLN Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Tengah, Manager PLN Unit Pelaksana Proyek Jaringan Jawa Bagian Tengah 1 serta Site Manager dan konsultan PT PLN Enjiniring. (dep6/dft/fsr)

***


Bagikan di | Cetak | Unduh