Sumber ekon.go.id

Pemerintah Dorong Kesiapan Industri Barang dari Karet Untuk Pemenuhan Kebutuhan Berbagai Industri Lainnya

26 Sep 2021 17:27

Kinerja ekspor industri karet dan produk karet cenderung stabil dari tahun ke tahun, namun perlu dilakukan pengembangan industri yang dapat membuat nilai tambah bagi produk-produk turunan dari komoditas karet agar dapat memberikan kontribusi yang lebih lagi bagi perekonomian.

Agar dapat mengetahui lebih lanjut apa saja potensi, peluang, kendala dan tantangan yang ada pada komoditas dan industri karet, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengadakan Focus Group Discussion (FGD) yang bertajuk “Kesiapan Industri Barang dari Karet bagi Industri Otomotif dan Industri Lainnya (Substitusi Impor)” di Kabupaten Bogor, Kamis (23/09).

Dalam FGD yang dipimpin oleh Asisten Deputi Pengembangan Industri Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Atong Soekirman tersebut, disampaikan bahwa 89% karet alam dihasilkan dari perkebunan rakyat dimana produktivitasnya relatif rendah yakni sebesar 1,1 ton/ha/tahun. Hal ini disebabkan oleh kurangnya peremajaan berkelanjutan yang berdampak pada banyaknya populasi pohon karet tua yang sudah tidak produktif.

Industri karet hulu merupakan indutri produk intermediate sehingga untuk mempertahankan harga karet maka dibutuhkan strategi demand management. Dimana dengan demand yang tinggi, akan mendongkrak harga karet ditingkat petani.

Untuk meningkatkan demand dan serapan karet, program-program yang dapat dilakukan diantaranya melalui peningkatan Tingkat Kandungan Dalam Negeri pada produk karet untuk kebutuhan infrastruktur, program implementasi aspal karet secara masif, pengembangan komponen jalan raya dari karet, dan penumbuhan industri bahan pendukung barang dari karet.

Sementara permasalahan pada industri hilir karet, industri ban yang menggunakan bahan baku karet alam pada produknya sebesar 32,4% menemui tantangan dimana kualitas karet alam domestik masih tergolong rendah sehingga sulit terhubung dengan industri hilir.

Untuk menghasilkan kualitas karet alam domestik yang dapat diterima oleh industri hilir, peran Unit Pengolahan dan Pemasaran Bahan Olah Karet (UPPB) dan pendampingan Balai Riset dan Standarisasi perlu untuk didorong. Peran UPPB pada saat ini masih dalam upaya-upaya untuk membuat produk olahan karet diantaranya pelapis pelapis sandal dan sepatu, aspal karet, dan karet fender pelabuhan.

Terkait dengan industri petrokimia, dimana produk yang dihasilkan industri ini juga sangat strategis dalam mendukung industri lainnya, diperlukan upaya mendukung peningkatan produksi melalui perbaikan infrastruktur ruas jalan untuk mengakses lokasi industri tersebut. Dengan lokasi industri petrokimia yang saat ini kebanyakan berada di kawasan Cilegon dan Banten, dukungan perbaikan infrastruktur ruas jalan di area Anyer-Cilegon-Merak menjadi hal yang dibutuhkan.

Produk yang dihasilkan oleh industri petrokimia antara lain polyprophilene yang banyak digunakan untuk produk suku cadang kendaraan. Produk lainnya yakni butodiene dan benzene yang kemudian dapat diolah lebih lanjut menjadi carbon black dan karet sintetis yang merupakan bahan baku industri ban.

Pada tahun 2019, kebutuhan carbon black dalam negeri sebesar 271 ribu ton sementara industri dalam negeri hanya sanggup memproduksi sebanyak 49 ribu ton. Disamping itu, dari kebutuhan karet sintetik dalam negeri sebesar 502 ton baru dapat dipenuhi sebesar 131 ribu ton.

Pada industri industri suku cadang kendaraan juga menemui tantangan dimana Industri Kecil Menengah khususnya tier 3, kekurangan linkage ke industri otomotif akibat kurangnya kapasitas dan kualitas yang terbatas. Untuk menjawab tantangan tersebut, program link and match serta serta material center disinergikan dalam bentuk pilot project sehingga Industri Kecil Menengah tier 3 semakin terhubung dengan industri besar. (ag/fsr)


Bagikan di | Cetak | Unduh