Pemerintah terus memperkuat fundamental perekonomian nasional untuk menghadapi berbagai tantangan global sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inklusif, dan berkelanjutan. Di tengah dinamika geopolitik, perang dagang, serta tekanan pada energi dan logistik, kolaborasi antara Pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi semakin penting untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerima kunjungan delegasi Uruguai yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Uruguai Valeria Csukasi bersama Wakil Menteri Peternakan, Pertanian, dan Perikanan Uruguai Matías Carámbula, Duta Besar Uruguai untuk Indonesia Cristina González serta perwakilan dari Institut Daging Nasional (INAC) dan Institut Susu Nasional (INALE) Uruguai, di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Jumat (21/08).
Setelah melalui proses perundingan selama hampir satu dekade, Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) kini terus dikawal untuk memasuki tahap akhir menuju penandatanganan dan ratifikasi. Capaian tersebut menandai babak penting dalam hubungan ekonomi Indonesia dan Uni Eropa, sekaligus membuka jalan bagi penguatan akses pasar, peningkatan investasi, serta perluasan kerja sama perdagangan dan ekonomi kedua pihak.
Untuk memperkuat hubungan ekonomi antara Republik Indonesia dan Uni Eropa serta mempercepat implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU CEPA), Pemerintah Indonesia melaksanakan dialog penting dengan Delegasi Uni Eropa dan para Duta Besar Negara-Negara Anggota Uni Eropa. IEU CEPA dipandang sebagai game changer untuk memperkuat perdagangan, investasi, diversifikasi rantai pasok, dan ketahanan ekonomi bilateral di kawasan ASEAN/Indo-Pasifik.
Pemerintah terus memperkuat industri kelapa sawit nasional melalui percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas kebun rakyat, memperkuat ketahanan energi, serta mendorong industri sawit yang inklusif dan berkelanjutan. Industri kelapa sawit memegang posisi strategis dalam kontribusi terhadap PDB Nasional sekitar 3,5%, dengan nilai ekspor tahun 2025 mencapai USD32 miliar dan volume 38,84 juta ton, serta tumbuh 11,05%.
Seiring dengan semakin eratnya hubungan ekonomi Indonesia dan Jerman, kedua negara terus membuka peluang pengembangan kerja sama pada berbagai sektor strategis. Investasi, energi terbarukan, semikonduktor, hingga pendidikan vokasi menjadi bagian dari agenda penguatan kemitraan ekonomi kedua negara.