Menko Perekonomian Darmin Nasution Menghadiri Seminar “Menuju Kemandirian Desa Masa Depan”
Senin, 05 Juni 2017 - 03:12
Sumber gambar : ekon.go.id
Kemandirian desa masa depan akan berhasil kalau Indonesia mampu mengatasi masalah yang dihadapi saat ini, yakni pertumbuhan laju migrasi penduduk. 
 
Laju migrasi penduduk desa di penjuru Indonesia mencapai 4% per tahun, salah satu yang tertinggi di dunia. Diperkirakan pada 2025, 65% penduduk desa akan berpindah ke kota. Angka ini diestimasi akan mencapai 85% pada 2050. 
 
Salah satu penyebab laju migrasi ini adalah rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat desa yang sebagian besar berprofesi sebagai petani subsisten. Petani yang memilih tetap tinggal di desa tidak memiliki banyak pilihan, baik untuk memilih bibit, pupuk, alsintan, hingga penjualan hasil garapannya sendiri. 
 
Bantuan pertanian yang datang ke desa pun terkadang tidak cocok dengan kebutuhan spesifik di daerah mereka. Sementara itu, di luar musim bercocok tanam, banyak petani subsisten mencari pekerjaan ke kota untuk menambah penghasilan, namun tidak jarang setelahnya tidak kembali lagi ke desa. Bila tidak ditanggulangi, meningkatnya angka migrasi desa ke kota akan membuat desa “hilang” dan mengganggu ketahanan pangan.
 
Menurut Darmin, untuk melahirkan petani-petani yang berorientasi pasar, hal yang penting dilakukan adalah memberikan akses yang lebih luas kepada petani, salah satunya melalui pembangunan desa yang lebih mandiri. “Basis utama dari desa mandiri ini adalah membangun infrastruktur pasar yang dapat mendukung peningkatan nilai tambah hasil produksi sektor pertanian. Di samping itu, dibutuhkan pula pembangunan fasilitas yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan utama petani di desa,” lanjutnya. 
 
Seminar dan diskusi panel ini menghadirkan para ahli serta praktisi di bidang agribisnis, di antaranya CEO marketplace komoditas pangan Limakilo, PT Riset Perkebunan Nusantara, dan PT  Sewu Segar Nusantara (Sunpride Indonesia). Diskusi ini diharapkan mampu menghasilkan outcome yang bermanfaat dan dapat diimplementasikan dalam kebijakan dan solusi tepat sasaran guna mendukung program ketahanan pangan Indonesia yang dirancang Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia.
 
Pada diskusi sesi pertama, “Tranformasi dari Subsistence Farmers Menjadi Market-Oriented Skilled Farmers”, akan dibahas langkah-langkah transformasi petani subsisten menjadi petani yang berbasis pola pikir dan kerja berorientasi rantai nilai bisnis komersil pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
 
Di sesi kedua, diskusi “Meningkatkan Kesejahteraan Petani Melalui Tumpang Sari, Ekonomi Kreatif, dan Manufaktur” akan mengulas pemberdayaan efektivitas serta efisiensi waktu petani setelah bercocok tanam dengan berorientasi pada potensi ekonomi kreatif.
 
Diskusi sesi ketiga, “Meningkatkan Rantai Nilai Agrikultur dari Hulu ke Hilir dengan Prinsip Right To Choose”, akan membahas kesempatan petani untuk berperan langsung dalam produksi, pasca panen, sampai dengan distribusi barang bernilai tambah ke pedagang dengan kemunculan industri sarana-prasarana pertanian yang memberikan right to choose kepada petani. 
 
Di sesi keempat, diskusi “Mewujudkan Pembangunan Desa yang Berkualitas dengan Konsep Urbanized Village” akan membahas alternatif pola baru pembangunan perkotaan di banyak desa, terutama desentralisasi dan upaya penekanan ekspansi populasi keluar dari perkotaan. Urbanized Village adalah sebuah perkembangan pedesaan yang terpusat pada satu kawasan yang saling berintegrasi dengan sarana-prasarana serta ruang publik yang baik.
Berita TerbaruLainnyarss
Informasi tidak ditemukan