Peluncuran B30: Komitmen Pemerintah Kurangi Impor BBM dan Memperbaiki Defisit Neraca Perdagangan Migas
Senin, 23 Desember 2019 - 13:58
Peluncuran B30: Komitmen Pemerintah Kurangi Impor BBM dan Memperbaiki Defisit Neraca Perdagangan Migas
Sumber gambar : ekon.go.id
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendampingi Presiden RI Joko Widodo dalam Peresmian Implementasi Program Biodiesel 30% (B30), Senin (23/12) di SPBU Pertamina, Jalan MT Haryono, Jakarta.
 
Pada acara tersebut, Presiden menyampaikan bahwa 3 (tiga) hal utama yang menjadi komitmen Indonesia, yaitu: (1) Mencari sumber-sumber energi baru terbarukan (EBT) dan menggunakan energi bersih serta menurunkan emisi CO2; (2) Mengendalikan ketergantungan impor BBM termasuk impor solar; dan (3) Memanfaatkan minyak sawit sebagai sumber bahan bakar nabati dengan penggunaan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) dalam negeri yang berlimpah sehingga menimbulkan multiplier effect terhadap 16,5 juta petani perkebunan kelapa sawit.
 
Selain itu, Presiden juga akan memonitor pelaksanaan B30 dan meminta agar B40 dipercepat tahun depan dan memulai B50 di 2021.
 
Pelaksanaan Mandatori B20 dan perluasan B30 sendiri ditujukan untuk menurunkan defisit neraca perdagangan di sektor migas dengan mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM) dan menghemat devisa.
 
Perluasan penggunaan B20 secara mandatori di 2018 dan 2019 telah berhasil meningkatkan penggunaan CPO sebagai bahan bakar nabati (BBN). Kemudian, pada 1 Januari 2020 akan dimulai pelaksanaan kebijakan Mandatori B30.
 
Guna memastikan pelaksanaan B30 di 2020, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah melakukan road test B30 pada Juni-November 2019. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara penggunaan B20 dan B30.
 
Uji coba B30 sudah dilaksanakan pada November-Desember 2019 di 8 (delapan) titik serah PT Pertamina dengan penyaluran Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebesar 210 ribu kiloliter (KL) yang melibatkan 10 Badan Usaha (BU) BBN. Sedangkan, di 2020, penyaluran FAME untuk B30 akan dilakukan di 28 titik serah Pertamina, dan 37 titik serah non-Pertamina, dengan melibatkan 18 BU BBM dan 18 BU BBN pemasok FAME.
 
Target total penyaluran FAME tersebut adalah sebesar 9,6 juta KL, yang akan menghemat devisa negara sebesar Rp63 triliun. Dalam rangka memastikan kualitas serta volume FAME dan B30 di titik penyaluran dan titik serah, Kementerian ESDM bekerja sama dengan pihak ketiga.
 
Terdapat 5 (lima) prinsip yang harus dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan terkait pelaksanaan Mandatori B20 yang akan  dilanjutkan dengan B30, yaitu: (1) Tidak boleh ada B0 yang beredar; (2) Apabila ada yang melanggar akan dikenakan sanksi administratif, baik berupa denda maupun pencabutan izin usaha; (3) Adanya insentif dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS); (4) Kualitas FAME dijamin oleh pemerintah melalui standarisasi (SNI); dan (5) Apabila ada keluhan masyarakat maka disalurkan melalui costumer care di nomor 14036.
 
Turut hadir dalam acara ini yaitu Menteri ESDM Arifin Tasrif, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUM) Erick Thohir, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama, serta perwakilan instansi terkait lainnya. (rep)

***

Berita Terkaitrss
Informasi tidak ditemukan
Pengelolaan Energi, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan HidupLainnyarss
Informasi tidak ditemukan
Berita TerbaruLainnyarss
Informasi tidak ditemukan