KTT IMT-GT ke-10: Menuju Kawasan IMT-GT Terintegrasi, Inovatif, Inklusif dan Berkelanjutan
Sabtu, 29 April 2017 - 15:53
KTT IMT-GT ke-10: Menuju Kawasan IMT-GT Terintegrasi, Inovatif, Inklusif dan Berkelanjutan
Sumber gambar : ekon.go.id

Manila, 29 April 2017.  Presiden Jokowi menyampaikan bahwa Kerja sama sub regional Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) merupakan kerja sama yang sangat penting karena populasi dan tenaga kerja yang ada di wilayah ini sangat besar.  Oleh karenanya “ekonomi penduduk di kawasan segitiga ini harus maju melalui kerja sama IMT-GT”.  Pernyataan itu disampaikan pada saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) IMT-GT ke-10 pada tanggal 29 April 2017 di Philippines International Convention Center (PICC), Manila, Filipina.

Pernyataan ini didasarkan pada fakta bahwa kerja sama IMT-GT menunjukkan peran yang cukup penting dalam kerja sama ASEAN. Skala ekonominya adalah 16,2% dari ASEAN, sementara populasinya adalah 13% dengan jumlah tenaga kerja mencapai 12,2% dari ASEAN.  Terlebih lagi didukung dengan pertumbuhan ekonomi yang secara rata-rata lebih tinggi dibanding ASEAN yaitu sebesar 6,9% per tahun selama periode 2010-2015.

Salah satu agenda utama dalam KTT ini adalah pengesahan dokumen perencanaan jangka panjang dan jangka menengah yang baru. Terhadap hal ini Presiden Jokowi menegaskan “saya menyambut baik dan mendukung adopsi IMT-GT Vision 2036 dan Cetak Biru Implementasi IMT-GT 2017-2021 untuk menjadikan kawasan IMT-GT sebagai kawasan yang terintegrasi, inovatif, inklusif dan berkelanjutan”.  Untuk mencapai hal itu maka “kunci pentingnya adalah: konektivitas” lanjut Jokowi.  Pada kesempatan ini para Kepala Negara juga menyepakati proyek konektivitas dengan nilai USD 47 Milyar. Indonesia sendiri mengajukan 14 (empat belas) proyek dengan nilai USD 15,3 Milyar.

Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor strategis dan mempunyai dampak yang luas kepada masyarakat.  Untuk itu Presiden Jokowi menegaskan “pengembangan paket wisata untuk wilayah segitiga pertumbuhan ini harus ditingkatkan.  Sebagai contoh: paket cruise Sabang-Phuket-Langkawi”.    

Isu lain yang diangkat oleh Indonesia adalah mengenai kelapa sawit.  “Wilayah IMT-GT merupakan ladang sawit dan saat ini kelapa sawit sedang dihadang kampanye hitam dimana-mana.  Untuk itu, kerja sama menangkal kampanye hitam ini harus dilakukan bersama” ucap Jokowi.  “Indonesia dan Malaysia telah membentuk Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) dan saat ini ingin mengajak Thailand untuk bergabung” lanjut Jokowi.  Terhadap ajakan ini, Thailand menyambut baik dan akan segera menindaklanjutinya.

Kerja sama Ekonomi Sub Regional Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) dibentuk secara resmi pada tahun 1993.  Tujuan utama kerja sama IMT-GT adalah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, mempercepat integrasi dari negara-negara bagian dari provinsi anggota di tiga negara serta memfasilitasi pengembangan sub-wilayah secara keseluruhan dengan memanfaatkan keunggulan kompetitif dan komparatif dari negara-negara anggota.

Cakupan wilayah Indonesia yang menjadi anggota IMT-GT berjumlah 10 (sepuluh) provinsi yaitu: Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Bangka-Belitung dan Lampung.

 

 

Informasi Lebih Lanjut:
Kepala Bidang Kerja Sama Ekonomi APEC dan Sub Regional Kemenko Perekonomian
Tri Hidayatno
021 3521849
thidayatno@gmail.com
Kerjasama Ekonomi InternasionalLainnyarss
Informasi tidak ditemukan
Berita TerbaruLainnyarss
Informasi tidak ditemukan