Kemenko Perekonomian Terima Kunjungan 125 Mahasiswa Unila, Bahas Kebijakan Investasi Hingga Insentif Fiskal
Rabu, 27 Maret 2019 - 16:30
Kemenko Perekonomian Terima Kunjungan 125 Mahasiswa Unila, Bahas Kebijakan Investasi Hingga Insentif Fiskal
Sumber gambar : ekon.go.id
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian kembali menerima kunjungan mahasiswa; kali ini sebanyak 125 orang yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung (FEB Unila), pada Selasa (27/9).
 
Tujuan study tour ke Kemenko Perekonomian ini ingin mengetahui seberapa besar pengaruh dari satu kebijakan terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
 
"Kami ingin tahu soal implementasi Paket Kebijakan Ekonomi (PKE) ke-16, khususnya tax holiday. Bagaimana kebijakan ini bisa mempengaruhi roda perekonomian Indonesia," kata Ida Budiarti, salah satu dosen FEB Unila yang mendampingi rombongan.
 
Menurut Edi Pambudi, Asisten Deputi Moneter dan Neraca Pembayaran Kemenko Perekonomian selaku narasumber, bahwa Indonesia saat ini menerapkan tax holiday dan tax allowance agar mempercepat masuknya investasi ke dalam negeri.
 
"Juga untuk menaikkan nilai ekspor, dan apabila pada akhirnya akan dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB), itu akan lebih bagus lagi," tutur Edi.
 
Selain itu, dalam paparannya di hadapan para mahasiswa berjaket almamater hijau ini, Edi juga mengungkapkan bahwa Indonesia memang terimbas oleh perang dagang (trade war) antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, namun tetap ada blessing yang dirasakan karena para investor masih mau berinvestasi di negara ini.
 
"Bursa saham di Indonesia termasuk yang paling diminati investor dunia, selama tidak ada gonjang-ganjing di dalam negeri. Negara yang termasuk silver economy, yang lebih banyak senior citizen-nya biasanya menaruh uang dana pensiun di negara berkembang seperti Indonesia. Jadi harus kita jaga kondisi di luar ekonomi juga," ucap Edi.
 
Edi pun menekankan jika Pemerintah Indonesia pada tahun ini berfokus mengembangkan sektor industri jasanya. Sebab, sektor ini tumbuh 6,5% pada akhir tahun lalu, lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan. 
 
"Pada saat investasi meningkat, supaya pertumbuhan ekonomi tinggi yang harus digerakkan adalah ekspor. Jadi kita harus bisa mengekspor jasa. Ke depannya, tenaga kerja Indonesia (TKI) harus punya skill yang mumpuni untuk mengimbangi teknologi yang semakin berkembang juga," pungkas Edi. (rep/iqb)
Berita Terkaitrss
Informasi tidak ditemukan
Sekretariat Kemenko PerekonomianLainnyarss
Informasi tidak ditemukan
Berita TerbaruLainnyarss
Informasi tidak ditemukan