Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan dengan China. Pada bulan Oktober ekspor dengan China tercatat mengalami surplus US$ 106,9 juta dari bulan September yang defisit US$ 125,4 juta.


"Ini untuk pertama kalinya neraca perdagangan kita dengan China surplus," kata Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Djamal, dalam jumpa pers di kantor BPS, Jakarta, Kamis (1/12/2011).


Lebih lanjut, ia mengatakan pencapaian surplus ini dikarenakan peningkatan eskpor China dan penurunan di sektor impor Indonesia.  Ekspor China mengalami peningkatan dari bulan September sebesar US$ 2,075 miliar menjadi US$2,241 di bulan Oktober. Sedangkan impor mengalami penurunan dari US$ 2,200 miliar bulan September menjadi US$ 2,134 miliar.


Sementara Deputi Bidang Statistik dan Jasa BPS Satwiko Darmesto, mengatakan penurunan impor dari China terjadi untuk produk-produk baja dan besi, kimia organik, plastik dan kimia organik. Penurunan produk baja ini diperkirakan disebabkan oleh penurunan proyek-proyek infrastruktur yang berhubungan dengan pinjaman dari China.


Hal senada juga diungkapkan oleh Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan, Edy Putra Irawady. Menurutnya penurunan produk-produk baja lebih dikarenakan proyek infrastruktur yang berhubungan dengan pembiayaan dengan China sudah banyak yang selesai. Ditambah produk-produk Indonesia yang di ekspor dengan China mengalami peningkatan.


"Penurunan baja ini bukan menandakan industri tidak tumbuh, tapi karena investasi, produk China tidak elastis dengan produk Indonesia," tuturnya.


Lebih lanjut, Jamal menambahkan pada periode Januari-Oktober 2011, pangsa ekspor Indonesia masih di dominasi oleh China dengan nilai US$ 17,136 juta atau 12,72 persen, diikuti Jepang dengan nilai US$ 15.17 juta atau 11,26 persen dan Amerika Serikat US$ 13.22 juta atau 9,81 persen.


Sementara, sambungnya, ekspor Indonesia ke Eropa dan Amerika tidak mengalami penyusutan meski negara di kawasan tersebut masih mengalami gejolak. "Ekspor ke Eropa dan Amerika tidak turun, bukan berarti tidak ada pengaruh. Karena volume ekspor ke Eropa banyak terdiri dari bahan baku seperti batubara, minyak nabati, " pungkasnya.

 

sumber foto: dianhadiputra.blogspot.com