|
Jakarta, 4 Januari 2008 – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian bersama dengan 16 Menteri di bidang Perekonomian telah menyampaikan Evaluasi Kinerja Ekonomi 2009 dan Prospek 2010 di Jakarta. Ada 6 (enam) agenda yang disampaikan yaitu: Makro Ekonomi, Program 100 H Bidang Ekonomi, Free Trade Agreement (FTA), membangun Ketahanan Pangan, peningkatan Infrastruktur , penciptaan Iklim Investasi , dan ketahanan energi.
Prospek ekonomi Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan lebih baik dari tahun 2009,. Perbaikan ekonomi terjadi karena adanya pemulihan ekonomi dunia dan perbaikan iklim investasi. Namun, masih perlu dicermati terhadap beberapa tantangan, yang masih harus dihadapi untuk perbaikan ekonomi di tahun 2010, antara lain: risiko global dan pembalikan arus modal global, kenaikan harga komoditi primer, terutama minyak mentah dan membengkaknya defisit anggaran di negara maju dan tingginya beban utang. Kondisi makro Indonesia tetap stabil dan kinerja perbankan terus membaik, dan menunjang pengembangan sektor riil. APBN-P 2009 juga mencapai target dan mendorong perekonomian melalui stimulus fiskal. dan APBN 2010 akan tetap ekspansif dan memberikan insentif pada sektor riil.
Kondisi Makro Ekonomi Indonesia pada tahun 2009 dan kondisi perkiraan untuk tahun 2010 adalah: respon kebijakan pemerintah yang tepat, baik dari sisi fiskal maupun dari sisi moneter telah mencegah terjadinya keterpurukan yang mendalam pada perekonomian Indonesia dengan memberikan stimulus fiskal yang cukup signifikan pada tahun anggaran 2009. Hal tersebut terlihat dari defisit APBN tahun 2009 diperkirakan sekitar 1,6% dari PDB. Disisi lain, Bank Indonesia juga telah menurunkan bunga acuan BI rate ke tingkat 6,5%, yang merupakan level terendah sepanjang sejarah BI rate.
Pada tahun 2009 ini perekonomian Indonesia tumbuh dengan laju sekitar 4,3% sampai dengan 4,4%. Angka pertumbuhan ini jauh lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008, dimana perekonomian Indonesia dapat tumbuh dengan laju 6,1%. Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 lebih banyak ditopang dari belanja pemerintah dan konsumsi. Untuk tahun 2010 diharapkan pertumbuhan ekonomi didorong oleh ekspor dan investasi, sedangkan konsumsi rumah tangga diperkirakan akan mengalami pertumbuhan sebesar 5,3% atau sedikit lebih tinggi dari perkiraan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada tahun 2009. Inflasi yang relatif terkendali sepanjang tahun 2009 juga memberikan berkah tersendiri bagi perekonomian Indonesia. Pada tahun 2009 laju inflasi berada pada kisaran 2,9% sampai dengan 3,0%. Tekanan inflasi diperkirakan akan meningkat pada tahun 2010, dimana inflasi akan meningkat ke kisaran 4% – 6%. Walaupun demikian, kenaikan inflasi ini diperkirakan tidak akan menggerus daya beli masyarakat secara signifikan.
Seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian dunia maka kinerja ekspor Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan akan lebih baik dibandingkan tahun 2009 yang akan tumbuh dengan laju sekitar 5,1%.
Peningkatan Anggaran Kemiskinan yang signifikan telah membantu menurunkan persentase Penduduk Miskin. Sejak tahun 2005, secara konsisten anggaran kemiskinan pada APBN meningkat secara signifikan yang diikuti dengan penurunan angka penduduk miskin. Pada tahun 2009 pemerintah telah menganggarkan kurang lebih sebesar Rp 71 triliun untuk menurunkan penduduk miskin menjadi 14,2%, sedangkan untuk tahun 2010 pemerintah menargetkan penurunan penduduk miskin menjadi 13% dari total penduduk dengan meningkatkan anggaran untuk program pengentasan kemiskinan kurang lebih sebesar Rp 64, 6 triliun.
Untuk perkembangan program 100 hari dijelaskan bahwa Program 100 hari di bidang perekonomian terdiri dari 19 Program dengan 51 Rencana Aksi . Target Capaian dinilai pada hari ke 30, hari ke 50, hari ke 75 dan hari ke 100 berdasarkan capaian pada setiap periode waktu dengan kriteria: Merah : ≤ 50%; Kuning : > 50% - 80%; Hijau : > 80 %– 100%; Biru : >100%. Dari hasil pemantauan pada H ke 50 sebagian besar yaitu 40 Rencana Aksi masuk dalam kriteria Hijau (78,4%), sebanyak 7 Rencana Aksi masuk dalam kriterua biru (13,8%) dan hanya 4 Rencana Aksi masuk dalam kriteria kuning (7,8%). Hal ini menunjukkan 92,2% Target Rencana Aksi yang ditentukan dapat tercapai sesuai rencana.
Pada kesempatan ini juga disampaikan tentang hal-hal yang menyangkut Free Trade Agreement sebagai berikut:
- Perjanjian CEPT-AFTA dimulai tahun 1992 dengan ASEAN-AFTA, dilanjutkan dengan pembentukan ASEAN Economic Community (AEC) tahun 2003 untuk direalisasikan pada tahun 2015. \
- ahun 2002 disepakati Perjanjian Komprehensif Kerjasama Ekonomi ASEAN-China, yang menjadi basis negosiasi ASEA N China FTA yang mulai dilaksanakan tahun 2004 (early harvest package), dan dilanjutkan dengan normal track mulai tahun 2005.
- Untuk CEPT-AFTA jumlah pos tarif yang menjadi 0% pada Januari 2010 sebanyak 1.696 pos tarif, sehingga total s.d Januari 2010 menjadi 8.654 pos tarif yang menjadi 0%.
- Untuk AC-FTA jumlah pos tarif yang menjadi 0% pada Januari 2010 sebanyak 1.597 pos tarif, sehingga total s.d Januari tahun 2010 menjadi sebanyak 7.306 pos tarif yang menjadi 0%.
Berdasarkan masukan dari dunia usaha beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu:
- Untuk ASEAN CEPT terdapat 227 pos tarif yang memerlukan pembicaraan ulang karena berpotensi melemahkan industri dalam negeri.
- Untuk AC-FTA terdapat 228 pos tarif yang memerlukan pembicaraan ulang karena berpotensi melemahkan industri dalam negeri
Langkah-Langkah yang akan di tempuh oleh pemerintah adalah:
- Berdasarkan masukan dari dunia usaha Pemerintah telah melakukan notifikasi untuk: melakukan pembicaraan kembali dalam rangka CEPT-AFTA dan ASEAN –China FTA.
- Membentuk Tim Penyelesaian Hambatan Industri dan Perdagangan yang beranggotakan lintas kementerian/ lembaga dan wakil dunia usaha, yang bertugas menyelesaikan masalah- masalah non tarif dalam rangka memperkuat daya saing industri dalam negeri menghadapi perdagangan global.
- Fokus kegiatan Tim tersebut di atas, meliputi: meningkatkan efektifitas pengamanan pasar dalam negeri dari penyelundupan, pengamanan dan pengawasan peredaran barang Dalam Negeri yaitu dengan memenuhi standar mutu(SNI), kesehatan, keamanan, dan lingkungan, hak atas kekayaan intelektual dan perlindungan konsumen lainnya (labelling, manual berbahasa Indonesia), unfair trade practices (al.: anti dumping, countervailing duty) dan impor relief (safe guard), memperketat Surat Keterangan Asal (SKA) dan melakukan promosi penggunaan produk Dalam Negeri;
Selain itu fokus kegiatan Tim tersebut di atas juga meliputi:
- Penguatan pasar ekspor (seperti penguatan perwakilan luar negeri, promosi Pariwisata, Perdagangan dan Investasi/TTI, penanggulangan masalah ekspor)
- Pembenahan tata ruang dan pemanfaatan lahan,
- Pembenahan infrastruktur dan energi,
- Pemberian insentif (pajak maupun non pajak lainnya)
- Membangun kawasan ekonomi khusus (KEK),
- Perluasan akses pembiayaan dan pengurangan biaya bunga (KUR, Kredit Ketahanan Pangan dan Energi, modal ventura, keuangan syariah, anjak piutang, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, dsb); Pembenahan sistem logistik;
- Perbaikan pelayanan publik (NSW, PTSP/SPIPISE dsb)
- Penyederhanaan peraturan
Dalam bidang ketahanan pangan beberapa hal yang dapat disampaikan sebagai berikut:
- Realisasi Penyaluran Pupuk Bersubsidi tahun 2009 sampai akhir Desember 2009 adalah Pupuk Urea sebesar 4.615.250 ton atau sebesar 84 % dari rencana kebutuhan. Sedangkan realisasi penyaluran pupuk Non Urea terserap sebanyak 100 % dari kebutuhan yang dialokasikan. Stok pupuk urea untuk kebutuhan Januari-Maret 2010 dalam kondisi aman.
- Produksi padi (Gabah Kering Giling/GKG) berdasarkan ARAM III pada tahun 2009 sebesar 63,84 juta ton meningkat 5,83% dibandingkan produksi tahun 2008 yang mencapai 60,33 juta ton. Produksi jagung (ARAM III 2009) sebesar 17,66 juta ton meningkat 8,22% dibandingkan produksi tahun 2008 yang mencapai 16,32 juta ton.Komoditas padi dan jagung telah mencapai swasembada sejak 2008, dan akan terus dipertahankan untuk tahun-tahun berikutnya Pada tahun 2010, produksi padi ditargetkan mencapai 66,68 juta ton dengan pertumbuhan 4,45%; produksi jagung ditargetkan mencapai 19,80 juta ton dengan pertumbuhan 10,2%; dan produksi kedelai ditargetkan mencapai 1,3 juta ton dengan pertumbuhan 34,57% dari tahun sebelumnya. Sedangkan untuk produksi gula ditargetkan mencapai 2,96 juta ton (naik 6,89%). Produksi gula untuk konsumsi rumah tangga sudah mencapai swasembada sejak tahun 2008, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan industri ditargetkan swasembada pada tahun 2014.
- Untuk memberikan insentif kepada petani guna meningkatkan produksi dan pendapatan, maka Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah dan beras akan dinaikkan yang berlaku mulai akhir Januari 2010. Untuk HPP gabah pada tahun 2010 diproyeksikan sebesar Rp 2.640/Kg (naik 10% dari harga sebelumnya Rp 2.400/Kg), sedangkan HPP beras diproyeksikan sebesar Rp 5.150/Kg (naik 12% dari harga sebelumnya Rp 4.600/Kg). Adapun untuk Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk akan tetap dipertahankan sampai dengan bulan Maret 2010. Namun demikian, mengingat anggaran subsidi pupuk tahun 2010 berkurang, maka HET pupuk setelah Maret 2010 akan disesuaikan.
Dalam bidang peningkatan Infrastruktur beberapa hal yang dapat disampaikan sebagai berikut:
- Pada akhir tahun 2009 kondisi jalan nasional menjadi sekitar 89% mantap, panjang lajur jalan nasional menjadi 84.985 km. Selain itu, telah dicapai jalan tol sampai dengan TA 2009 sepanjang 131,35 km selesai dibangun dan beroperasi (termasuk jalan tol Suramadu); dukungan Pembebasan Tanah (BLU dan Land Capping).Sedangkan yang sudah dalam ikatan kontrak sepanjang 736,62 km, saat ini sedang dilaksanakan konstruksinya sepanjang 222,98 km.
- Pemerintah telah melakukan upaya-upaya percepatan pertumbuhan wilayah, yang antara lain: (1) Percepatan pembangunan Provinsi Papua; (2) Penataan Kawasan Industri; (3) Penetapan Kawasan-kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (Batam, Bintan, Karimun dan Sabang); (4) Penyiapan Kawasan Ekonomi Khusus; (5) Reformulasi kebijakan pengembangan Kawasan Ekononomi Terpadu (KAPET).
- Pada tahun 2010 merupakan kelanjutan pencapaian TA. 2009 dengan target capaian kondisi mantap menjadi 90% melalui:
i) Peningkatan dan pembangunan baru lajur jalan sepanjang 1.441 km
ii) Rehabilitasi jalan nasional 1.161 km dan jembatan 6.443 m
iii) Peningkatan struktur jalan 547 Km dan penggantian jembatan 2.219 m
iv) Pembangunan jalan di kawasan perbatasan 80 km dan jembatan 230 m
v) Pembangunan jalan di pulau-pulau terpencil dan terluar 48 km
vi) Peningkatan/pembangunan jalan lintas, baru 1.287 km dan jembatan 3.948 m
vii) Pembangunan Fly Over 3.262 m
viii) Pembangunan jalan lintas Pantai Selatan Jawa 33 km dan 211 m, dan pembangunan jalan akses 29 km.
- Jalan tol yang akan diselesaikan dan dioperasikan sepanjang 38,4 km dan lanjutan dukungan terhadap investasi pembangunan ruas-ruas jalan tol lainnya berupa pengadaan lahan, land capping, dan sebagian konstruksi bagi 22 ruas yang telah kontrak, lanjutan persiapan PPJT 4 ruas jalan Tol dan persiapan pengusahaan jalan Tol lainnya (31 ruas).
Untuk usaha penciptaan iklim investasi ada beberapa hal yang dapat dilihat sebagai berikut:
- Rencana Strategis (Renstra) BKPM mentargetkan rencana investasi PMA dan PMDN tahun 2009 sebesar Rp 345,7 triliun Rupiah. Jika pencapaian Januari–November 2009 telah mencapai Rp 340,8 triliun maka kemungkinan besar target Renstra tersebut dapat dilampaui. Sementara itu realisasi investasi total PMA dan PMDN Januari-November yaitu Rp 127,2 triliun telah melebihi target keseluruhan tahun 2009 yang ditargetkan dalam Renstra sebesar Rp 94,1 triliun.
- Prospek investasi tahun 2010 diharapkan lebih baik dari tahun sebelumnya. Beberapa faktor positif yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan investasi di Indonesia adalah mulai pulihnya perekonomian dunia dan membaiknya iklim investasi di Indonesia. Perbaikan iklim investasi di Indonesia antara lain diterapkannya Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di bidang penanaman modal baik di pusat, provinsi dan kabupaten/kota; penyederhanaan prosedur perizinan: mempercepat proses perizinan penanaman modal .Pada tahun 2010, rencana dan realisasi penanaman modal diharapkan dapat tumbuh 15 persen dari perkiraan capaian keseluruhan tahun 2009 (Januari-Desember 2009).
Pelaksanaan di bidang ketahanaan energi untuk tahun 2009 dan prospek di tahun 2010 dapat dilihat sebagai berikut:
- Secara garis besar perkiraan realisasi produksi energi fosil tahun 2009 sebesar 5.290 ribu BOEPD, angka ini lebih besar jika dibandingkan dengan realisasi produksi pada tahun 2008 yaitu sebesar 5.026 ribu BOEPD atau meningkat sebesar 5,3%. Perkiraan realisasi produksi tersebut terdiri dari minyak bumi sebesar 949 ribu BOPD, gas bumi sebesar 1.420 ribu BOEPD, dan batubara sebesar 2.921 ribu BOEPD.
- Terkait dengan pasokan listrik, kapasitas terpasang pembangkit listrik tahun 2009 sebesar 30.940 MW. Kapasitas tersebut meningkat dari tahun 2008 sebesar 30.526 MW. Selain itu, dalam rangka pengembangan energi alternatif, kapasitas energi non-fosil untuk pembangkit listrik tahun 2009 sebesar 5.496,4 MW (termasuk panas bumi sebesar 1.189 MW). Kapasitas tersebut mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar 5.353,6 MW.
- Pada tahun 2010 produksi minyak bumi nasional ditargetkan akan dipertahankan pada 965 ribu BOPD, dan akan terus ditingkatkan hingga mencapai 1.010 ribu BOPD pada tahun 2014. Sementara itu, produksi gas bumi pada tahun 2010 diperkirakan sebesar 1.593 ribu BOEPD dan menjadi 1.633 ribu BOEPD pada tahun 2014.
- Kebijakan alokasi gas lebih diutamakan untuk pasokan domestik, dimana cadangan besar digunakan baik untuk domestik maupun ekspor dan cadangan kecil untuk domestik. Selain itu, kebijakan DMO gas juga telah diberlakukan.
- Di sub sektor ketenagalistrikan jaminan pasokan ketenagalistrikan diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan antara lain melalui Program 10.000 MW tahap I, 10.000 MW tahap II serta program pembangunan pembangkit melalui IPP.
|