|
Pada hari Senin, tanggal 23 November 2009 telah dilaksanakan pembukaan Temu Nasional Desa Mandiri Energi (Temunas DME) oleh Deputi Koordinasi Bidang Pertanian dan Kelautan Menko Perekonomian Dr. Bayu Krisnamurthi, yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian. Temunas DME ini akan dilaksanakan di Hyatt Regency Hotel, Bandung pada tanggal 23-25 November 2009 dan diikuti oleh peserta dari Kementerian/Lembaga yang terkait dengan DME, Pemerintah Provinsi, dan juga Pemerintah Kabupaten/Kota, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta LSM yang terlibat dalam pengembangan DME.
Dalam sambutannya, Deputi Koordinasi Bidang Pertanian dan Kelautan menyampaikan bahwa pada saat ini terdapat 633 DME yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebanyak 244 desa menggunakan tenaga hidro/air, 237 desa berbasis Bahan Bakar Nabati (BBN), 125 desa menggunakan tenaga surya, 14 menggunakan biogas, tenaga angin 12 desa, dan 1 desa menggunakan biomassa. Seluruh DME ini dibiayai oleh APBN. Kebutuhan energi pada setiap desa terbagi menjadi 4 (empat) kebutuhan utama, yaitu kebutuhan untuk penerangan, memasak, transportasi, dan kegiatan ekonomi produktif.
Tujuan Desa Mandiri Energi sebagai perwujudan program diversifikasi energi dan penanggulangan kemiskinan di daerah-daerah terpencil. Saat ini, kebanyakan daerah yang memiliki potensi energi lebih memilih menggunakan air dan bahan bakar nabati dibandingkan menggunakan sinar matahari, angin ataupun ombak yang disebabkan oleh proses pengolahannya menjadi sumber energi jauh lebih murah.
Gubernur Jawa Barat dalam sambutan tertulisnya menyampaikan bahwa kebutuhan energi di berbagai sektor telah menunjukkan peningkatan, dengan laju permintaan rata-rata 10% pertahun. Secara umum, ketergantungan sektor-sektor pengguna kondisi energi di Jawa Barat terhadap BBM (Bahan Bakar Minyak) masih sangat tinggi, seperti sektor transportasi yang masih 100% menggunakan BBM, industri-industri dengan input energi yang masih tergantung kepada BBM serta sebagian besar pembangkit listrik juga masih tergantung pada BBM.
Pada saat ini, di Jawa Barat telah dibangun pembangkit listrik yang menghasilkan daya sebesar 4700 MW. Namun hampir seluruh daya tersebut tersambung pada sistem Jaringan Transmisi Nasional sehingga tidak dengan mudah dimanfaatkan secara langsung namun memerlukan fasilitas yang cukup mahal. Di Jawa Barat masih tersimpan potensi sumber energi yang cukup besar untuk untuk dikembangkan terutama sumber energi terbarukan, yaitu aterdapat 20% potensi geothermal, sumberdaya air sekitar 12 milyar m3/tahun, biomasa dan biogas yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi pembangkit listrik dan penyediaan energi alternatif. Pada akhir sambutannya, Gubernur Jawa Barat mengajak kalangan dunia usaha untuk berinvestasi di sektor energi dan ketenagalistrikan di Jawa Barat. |